“Selamat kelam.”

Kalau boleh saya bercerita…..

ah, tak bisa.

Saya ini hanyalah serpihan usang yang jarang ia pakai. Saya ada tapi tak ada. Saya nyata tapi tak teraba. Katanya, saya kini tiada guna, tiada macam mutualisme antara saya dengannya. Apakah saya layaknya ikan remora yang menghambakan diri pada Hiu? Tidak tahu.

Pernahkah merasa berguna tapi tidak berguna? Saya merasa kuat, merasa punya kemampuan untuk merubah dunia! Merubah masa, merubah zaman keemasan menjadi miliknya. Saya bisa menjanjikan uang banyak, akhir kehidupan pada estetika surga yang tiada tara.

Mengapa ia tak melirik sejenak?

Padahal, telah saya kerahkan segala daya pikat. Turunkan martabat. Saya tak peduli dengan harga diri! Cih, manusia memang begitu. Ia coba bohongi mereka tapi sayalah yang paling mengetahui segala tetek bengeknya. Rahasia-rahasia yang terselip pada gang kelinci. Cumbu rayunya pada manusia yang tak ia suka. Senyuman ketika ia tahu ini adalah salah. Ini tak benar!

Telah kuserukan gaung biru padanya. Tentang ketenangan. Tentang melihat segalanya dari sisi yang berbeda.

Yah…. Apa daya,

Logika memang lebih pandai menggoda.

Salam hangat dari balik jeruji,

Hati.