Darwis selalu menangis sedih ketika ada ikannya yang mati. Sebelum ikan itu dikuburkan, dia tidak akan mau makan apa pun.

Thalassemia adalah penyakit bawaan yang menyerang sel darah merah. Wajah penderitanya pucat kekuningan akibat sel-sel darah merahnya banyak yang rusak dan hancur. Proses tumbuh kembang mereka pun
terhambat serta perut mereka tampak membesar. Bahkan untuk sekadar hidup, penderita thalassemia selalu membutuhkan transfusi darah.
Seperti itulah yang terjadi pada Darwis, sepupu sekaligus adik angkat saya yang berusia 9 tahun. Darwis adalah bungsu dari lima bersaudara anak paman dan bibi. Dia pernah ditinggalkan di rumah sakit oleh paman dan bibi. Bukan karena tidak menyayangi, tetapi justru sebaliknya, mereka takut nasib Darwis sama dengan kakak-kakaknya yaitu meninggal sebelum bisa melihat warna-warni dunia. Membawa pulang sama artinya menjauhkannya dari perawatan dan obat-obatan yang amat dibutuhkannya. Tetapi kemudian ibu mengambil dan mengembalikannya lagi pada paman dan bibi.
Darwis punya sebuah keinginan sederhana yaitu memiliki seorang adik. Ketika ada keluarga dan tetangga yang baru melahirkan, dia sering meminta agar bayi tersebut dibawa ke rumahnya. Bayi itu disayanginya bagai adik kandungnya sendiri.

Kadang-kadang kami menggodanya dengan mengatakan bayi itu bukan adiknya. Dia langsung marah dan mengatakan bahwa bayi itu adalah adiknya. Dia bahkan meminta pembelaan dari orangtuanya. Begitu besar keinginannya hingga ketika tragedi Tsunami Aceh disiarkan di televisi, dia langsung memohon pada orangtuanya untuk mengangkat salah satu bayi yang telantar agar bisa menjadi adiknya. Dunia telah memberi banyak bagi hidupnya, itulah mungkin yang dirasakan Darwis selama ini.

Maka dia pun menjadi begitu dermawan. Dia sering memberikan mainan dan baju kepada teman-temannya, termasuk pada adik-adik saya.

Yang paling mengharukan adalah keikutsertaannya dalam Program Penghijauan Kembali yang diadakan sekolah. Sebenarnya orangtua dan guru-gurunya sudah melarang ikut karena desa yang dituju amat jauh.
Apalagi kondisi tubuhnya teramat lemah untuk melakukan kegiatan yang tergolong berat seperti itu. Tetapi dia bersikeras, bahkan menolak tawaran untuk naik sepeda motor diantar orangtuanya hingga mencapai desa tujuan.
Menurutnya, naik sepeda onthel bersama teman-teman lebih enak. Dia ingin menghayati perjuangannya dalam melaksanakan program tersebut.

Darwis penyayang binatang. Di halaman samping rumaha terdapat kolam besar penuh ikan. Dia juga memiliki seekor kucing serta dua ayam yang dianggapnya sahabat. Seekor kura-kura dibiarkannya bebas berkeliaran di dalam rumah. Anak ini selalu menangis sedih ketika ada ikannya yang mati. Sebelum ikan itu dikuburkan, dia tidak akan mau makan apa pun.

Bagiku, Darwis adalah sosok yang sabar dan tegar meskipun usianya masih teramat muda. Tak pernah sekalipun keluhan terdengar dari mulutnya selama sakitnya menjadi parah. Rasa takut dan tangisan juga tak pernah terlihat setiap kali dia mengeluarkan banyak darah melalui dubur dan mulut. Itu dianggapnya sebagai bagian dari keseharian hidup karena setiap 3-6 bulan selalu terjadi.

Suatu kali, Darwis muntah darah seperti yang selama ini terjadi. Keluarganya membawa ke rumah sakit terdekat sebelum akhirnya dirujuk ke Surabaya. Setiap selesai muntah, badannya langsung lemah serta wajahnya berubah
pucat, kemudian tertidur. Tetapi kali ini berbeda. Setelah muntah darah, raut mukanya tampak cerah dan segar. Dia lalu meminta izin berwudu dan salat zuhur. Kami yang menjaga menangis bercucuran. Selesai salat dia menyapa kami.

“Mama dan Papa jangan menangis lagi, aku sudah sembuh, aku sekarang sudah menang dan mereka yang kalah.”

Kemudian dia meminta dinaikkan ke tempat tidur. Matanya lalu dipejamkan. Tak ada kesedihan atau kesakitan yang terpancar. Mata yang terpejam itu ternyata tak pernah terbuka lagi untuk selamanya. Tuhan telah memanggilnya. Dia telah pergi dan tak akan pernah kembali.

Tulisan ini saya buat untuk mengenang sepupu sekaligus adik saya yang bernama Mochammad Darwis.
Selamat jalan, Adik!

Oleh
Fatkhul Amaludin
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
fatkhul_aa@yahoo.com

diambil dari : http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=31286