Jika anda cemas atau depresi, jangan langsung mengkonsumsi obat antidepresan, sebab ini akan membuat ketergantungan pada obat tersebut. Padahal, jika terlalu lama atau terlalu sering mengkonsumsi, beresiko terkena penyakit diabetes mellitus tipe 2. Diabetes tipe ini adalah penyakit kencing manis yang sebagian besar diakibatkan oleh pola hidup yang salah.
Peringatan tersebut dituangkan lewat hasil studi yang dimuat dalam jurnal Diabetes Care. Dokter Mika Kivimaki dari University College, Londin Inggris, melakukan riset yang melibatkan 150.000 warga Finlandia berusia dewasa. Penelitian berlangsung selama 5 tahun, hasilnya 851 orang diantaranya menderita Diabetes selama lima tahun.
Kemudian peneliti mengaitkannya dengan kebiasaan mengkonsumsi obat anti depresan. Kivimaki mengukur berapa dosis dan penyakit diabetes yang diderita. Hasilnya hanya 1.1% yang mengkonsumsi antidepresan yang menderita diabetes. Ini lebih kecil dibandingkan dengan 1.7% yang menggunakan obat penenang dengan dosis 200-400g/hari, dan 2.3% pada mereka yang menegak di atas 400mg/hari.

BAHAYA MAKAN CABAI
Ini peringatan buat mereka yang suka makan cabai hingga berkeringat. Berhati-hatilah karena bisa beresiko terkena kanker kulit. Sebab cabai mengandung capsaicin, yang menurut Ann Bode, peneliti pada institute Hormel, Universitas Minnesota, America Serikat, bersifat karsinogen. Zat tersebut digunakan pula sebagai bahan krim pereda nyeri.
Kaitan cabai dengan kanker kulit dibuktikan lewat percobaan pada mencit. Mencit diolesi capsaicin selama beberapa hari. Setelah itu Bode terkejut karena melihat ada tumor dikulit binatang pengerat tadi. Jumlahnya makin banyak dan menyebar ke bagian kulit lain. Dari situ ia menyimpulkan bahwa capsaicin dapat mereduksi peradangan yang pada gilirannya akan menyebabkan timbulnya kanker. Ia juga menemukan enzim peradangan cyclooxygenase-2 (COX-2) juga dirangsang oleh capsaicin.
Bode menganjurkan orang agar berhati-hati bila menggunakan pareda nyeri capsaicin. Bila tidak berkonsultasi dulu dengan dokter.
Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2174776-bahaya-obat-anti-depresan/#ixzz1PdWpJuzl